Batik sebagai warisan budaya tanah air telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dan telah menjadi lahan usaha yang tak pernah henti karena coraknya diminati banyak orang sesuai fitrah manusia yang selalu ingin berubah dalam tampilan dan busananya. Batik menjadi ajang kreatifitas pembuat batik yang meliputi, produsen bahan, pembatik, karyawan pencelup warna, bahan-bahan pewarna, desainer gambar, desainer model, dan pimpinan atau menejer batik.
Karena proses pembuatannya yang beribu-ribu macam, sering konsumen tidak mengerti mana batik halus atau tulis mana batik cap? Konsumen bisa jadi dibuat kecewa, karena salah duga dan salah pilih. Pengusaha batik cukup pintar dan selalu mencari celah-celah yang canggih bagaimana membuat batik seakan-akan mahal (berkualitas) tetapi dengan biaya yang murah. Ini menjadi pemikiran yang tidak pernah henti bagi pengusaha sesuai hukum ekonomi. Yang menjadi korban lagi-lagi konsumen. Budaya positif thinking mulai berkurang di kalangan pengusaha, apalagi pengusaha yang berniat menolong orang atau konsumen. Di dunia otomotif, farmasi, property, hukum, juga berlaku demikian. Lagi-lagi yang menjadi korban konsumen, atau rakyat kecil. Rupanya etika bisnis sudah mulai ditinggalkan oleh banyak orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar